InfoSAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit Indonesia kerap menjadi sorotan global terkait dampaknya terhadap lingkungan, terutama dalam hal emisi gas rumah kaca (GRK) dan keanekaragaman hayati. Tuduhan bahwa sawit memiliki jejak karbon lebih tinggi dibandingkan komoditas lain seperti kedelai atau rapeseed terus bergulir. Namun, apakah klaim ini benar-benar didukung oleh bukti ilmiah yang menyeluruh?
Selama 15 tahun terakhir, SMART Research Institute (SMARTRI) telah melakukan studi komprehensif mengenai emisi GRK di perkebunan sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sawit berkontribusi terhadap emisi karbon, terutama melalui alih fungsi lahan, tingkat emisinya tidak selalu lebih tinggi dibandingkan komoditas lain. Dari segi produktivitas, sawit justru lebih unggul karena mampu menghasilkan minyak nabati 6-10 kali lebih banyak per hektar, yang berarti emisi per ton minyaknya lebih rendah.
Narasi bahwa perkebunan sawit menghancurkan keanekaragaman hayati juga perlu ditelaah lebih dalam. Alih fungsi hutan memang dapat mengurangi spesies endemik, tetapi penelitian dari berbagai universitas menunjukkan bahwa dengan praktik berkelanjutan seperti penanaman tanaman pendamping dan pelestarian koridor riparian, keanekaragaman hayati di sekitar kebun sawit dapat dipertahankan, bahkan meningkat.
BACA JUGA: Pendekatan Yurisdiksi Didorong untuk Keberlanjutan Industri Kelapa Sawit
Di beberapa kawasan konservasi yang dikelola dengan baik, ditemukan bukti bahwa mamalia kecil, burung, dan serangga tetap bertahan. Ini membuktikan bahwa sawit bukanlah “padang gurun ekologis” yang sepenuhnya merusak habitat, melainkan dapat menjadi bagian dari solusi keberlanjutan dengan penerapan prinsip agroekologi yang tepat.
Indonesia memiliki sekitar 120 juta hektar hutan, tetapi sebagian besar telah terdegradasi akibat aktivitas ilegal, kebakaran, dan konversi lahan untuk berbagai kebutuhan, termasuk permukiman dan infrastruktur. “Menyalahkan sawit sebagai penyebab utama deforestasi tanpa melihat akar masalah seperti lemahnya penegakan hukum dan tata kelola lahan adalah pendekatan yang tidak adil,” kata Agus Purnomo, Direktur Sinar Mas agribusiness and Food, dalam sebuah acara dihadiri InfoSAWIT, belum lama ini.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO April 2025 Naik 0,74 Persen, Bea Keluar Tetap US$ 124 per Ton
Banyak kritik terhadap sawit datang dari studi yang tidak mempertimbangkan konteks lokal atau hanya mengacu pada kasus-kasus buruk. Misalnya, penelitian yang menyamaratakan semua perkebunan sawit sebagai perusak lingkungan, tanpa membedakan antara praktik berkelanjutan dan ilegal. Padahal, sertifikasi seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) telah mendorong perubahan signifikan dalam industri ini. (T2)
Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi februari 2025
The post Sawit dan Lingkungan, Perlunya Dialog Berbasis Ilmu Pengetahuan appeared first on InfoSAWIT.

Terimakasih telah membaca di Piool.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com dan join di komunitas Topoin.com.